Pemb.Sosiologi Inovatif

ABDI DALEM KRATON yOGJAKARTA

Struktur sosial ada di setiap satuan sosial manapun, tak ketinggalan di Kraton Yogjakarta. Di dalam kraton terdapat komunitas khusus yang bernama Abdi Dalem. Sejauhmana peran sosial mereka dalam hiruk pikuk percaturan sosial di luar kraton yang telah sedemikian komplek. Mengapa mereka masih demikian setia pada pada profesinya sebagai Abdi Dalem ? Itulah perlunya Siswa kita dibawa pada aktivitas yang dapat mengorek lebih jauh tentang kehidupan mereka, agar pembelajaran Sosiologi tak hanya berorientasi pada penguasaan konsep di dalam kelas semata. Kleas XII IPS 1 2006 mencoba mengoreknya dalam aktivitas observasi yang dikomandani ananda TAUFIQ.

MASYARAKAT KRITIN

Masyarakat ini berada di Dusun Badung Desa Paten Kec. Dukun Kab. Magelang Jateng. Mereka berada di lereng gunung Merapi. Walaupun jumlahnya tak sebanyak yang lainya, namun menarik dicermati; karena jumlahnya dalam satu desa tak kurang dari 100 orang. Diberi simbol Kritin karena mereka memiliki tinggi badan sekitar 1,20 m. Tentu ukuran ini masuk kategori kurang normal. Mereka juga mengalami kendala pada cara bicara. Mereka juga tak mampu melakukan reproduksi, karena semua orang Kritin tak ada yang menikah; baik sesama kritin apalagi dengan masyarakat di luar Kritin.

Berdasar hasil wawancara dengan beberapa tokoh setempat diperoleh keterangan mereka kena Korban ambisi orang tua yang ingin hidup kaya, tetapi bekerjasama dengan makluk halus. Namun dari penjelasan medis mereka diduga kuat kekurangan zat Yodium. Hal ini terjadi terjadi karena pola hidup mereka yang mengkonsumsi air mentah aliran gunung merapi. Hal ini hasil tentu merupakan hasil sementara Observasi Siswa siswa kami SMAN 5 Magelang kelas XII IPS 1. Silahkah ditelaah lebih lanjut.

RITUAL RAMBUT GEMBEL

Rambut gembel adalah suatu relaita sosial yang ada di masyarakat, khususnya di Kabupaten Wonosobo dan sekitarnya. Komunitas rambut gembel telah menjadi aset bagi Pemda Wonosobo untuk dijadikan salah satu aset wisata daerah. Sehingga setiap tahun sekali diadakan Acara Ritual Pencukuran Rambut Gembel.

OBSERVASI RAMBUT GEMBEL ANAK-ANAK SMAN 5 MAGELANG

Tak ketinggalan siswa-siswa SMAN 5 Magelang mengadakan observasi rambut gembel khususnya di desa Reco Kec. Kretek Kab.Wonosobo. Hasil wawancara dengan orang tua rambut gembel dan para pemuka masyarakat diperoleh kesimpulan : 1. Seorang anak akan berambut gembel ditandai dengan panas tinggi dalam beberapa hari 2. Setelah secara medis nggak sembuh, terdapat tanda rambut gembel di kepala si anak. 3. Usia mereka bisa sejak umur sekitar 1 tahun. 4. Orang tua rambut gembel menganggap hal tersebut sebagai anugrah dari nenek moyangnya. 5. Mereka biasanya minta sesuatu kepada orang tuanya yang harus dipenuhi, jika tidak rambut itu akan gembel selamanya. 6. Pemotongan rambut gembel harus melalui ritual yang salah satu saratnya adalah dipenuhinya apa yang diminya oleh anaknya rang berambut gembel. 7. Pada umumnya mereka yang berambut gembel adalah perempuan, walaupun laki-laki juga ada;tnamun populasinya jauh lebih banyak yang perempuan.

Apa sebab mereka berambut gembel : ? setidaknya dapat dijelaskan dari dua sisi. Sisi medis barangkali berkaitan dengan pola hidup yang kurang memenuhi standar minimal kesehatan. 2. Secara relegi ada aanggapan bahwa hal tersebut memang telah menjadi garis hidupnya karena kasih sayang sang nenek moyangnya.

OBSERVASI WARIA SISWA SMAN 5 MAGELANG

Hasil observasi terhadap kehidupan Waria di wilayah Soka Kota Magelang diperoleh keterangan bahwa mereka menjadi Waria karena taqdir, juga karena tekanan sosial pada masa kecilnya terutama dari keluarga. Kaum waria ada selain dari masyarakat biasa, juga ada yang pernah berada dalam Kehidupan Pondok Pesantren. Masyarakat masih menganggap komunitas mereka adalah kelompok marginal. Karena mereka dianggap bertentangan dengan agama dan kehendak masyarakat pada umumnya, walaupun ada juga Waria yang punya kebiasaan mengaji dan sholat bagi yang beragama Islam. Kehidupan mereka ada yang mengamen, berdagang bahkan ada yang berhasil membuka Salon; sepertihalnya Mbak Egi yang ada di Secang. Bahkan mbak Egi punya obsesi ingin mendirikan Panti Jompo Kaum Waria. Kasus mbak Egi terungkap dalam wawancara ketika siswa-siswi Klas XII Ips 4 tahun 2007 menghadirkan dia dalam dialog dalam pembelajaran Sosiologi di kleas XII IPS 4. WARIA MASUK KELAS.

PENGAMEN MASUK KELAS XII IPS 3 TH 2007

Usil juga anak-anak SMAN 5 Magelang yang punya jurusan IPS itu. Tak mau kalah dengan kelas lainya yang mengahadirkan Waria masuk kelas, mereka juga berusaha mebuka PENGAMEN JALANAN masuk kelas. Selain berdiskusi dalam membahas materi Dampak perubahan sosial, mereka mewawancarai bahkan bernyanyi di dalam kelas dengan pengamen jalanan. Kesimpulan yang diperoleh mereka menjadi pengamen jalanan karena nggak punya modal. Mereka menjadi pengamen jalanan dipaksa oleh keadaan. Mereka punya motivasi mengamen karena banyak sebab. Ada yang karena untuk membiayai kelaurga, namun ada yang juga untuk foya-foya, minumaan keras dsb. Mereka tidur disembarang tempat. Terungkap dalam wawancara tersebut, mereka tetap mempunyai etika sosial agar tidak mencuri hak orang lain, dan tidak memaksa orang lain untuk memberi uang. Jika ada yang melanggar mereka dihakimi sendiri sesama pengamen jalanan. Oh ternyata mereka juga mansia yang juga punya hati nurani.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: